PUisi

Pandangan Pertama

Saat Mataku Beradu

Hatiku haru biru

Senyummu selalu

Menghias kalbu

Mengusik jiwaku

ketika ku tatap wajahmu

dari kejauhan

Kurasakan darahku berdesir

Jantungku berdegup

dan hatiku berdebar

ingin ku menyapamu

Namun rasa malu

tak kuasa menahan

dari hati yang terdalam

Ku ingin menyatakan

perasaanku

bahwa

Aku mencintaimu.

Bertanya AKu dalam Hati

Salahkah harapku yang tak pasti

Seperti ingin memetik bintang di langit

sedang tuk berjalan saja masih ku terasa letih

Hayalku berlalu tapi ingat ini semua

isi hatiku yang tersalin pada selembar kertas ini

keluar dari mulutku , tergores oleh tanganku

berteman saja untuk ku berlebih apalagi memilikinya

Wajahnya indah terlihat indah dalam ingat

namanya terpatri dalam hati

sedang namaku disecarik kertas sobek pun mungkin tak tertulis olehnya

inikah yang dinamakan cinta bertepuk sebelah tangan

Biarlah semuanya mengalir seperti air

hingga merasuk disetiap sel-sel nadiku

agar dapat kurasakan indahnya merindu,

merindu atau mungkin pedihnya merindu

kau tahu, kau satu di dalam hatiku.

Published in: on Agustus 3, 2008 at 5:41 am  Tinggalkan sebuah Komentar  

Humor Umum

Dihina Karena Memiliki Anak yang Jelek Sekali

Seorang wanita hendak naik bis sambil menggendong bayinya. Supir bus mengatakan,

“Wah, bayi Anda adalah bayi yang paling jelek yang pernah saya lihat!”.

Wanita tadi dengan marah membanting uang ongkos bis, di kotak uang dan mengambil tempat duduk di belakang. Lalu dia berusaha menenang- kan diri. Seorang pria yang duduk di sebelahnya menyadari bahwa wanita tadi sedang marah, dan menanyakan apa sebabnya. Wanita tadi menjawab, “Supir bus itu menghinaku tadi!”.

Dengan bijak sang pria mengatakan,
“Mengapa begitu? Tidak seharusnya supir bis umum seperti dia menghina penumpangnya”.

“Kau benar”, kata wanita itu, “Saya akan kembali ke sana dan memberinya pelajaran!!!”.

“Ide yang bagus” kata pria itu, “Sini, biar saya yang gendong monyet Anda”

Pasien Pertama Seorang Dokter Praktek

Steven, si dokter muda, baru saja kelar PTT di daerah terpencil di Yahukimo Papua. Sekarang ia baru boleh buka praktek untuk umum. Betapa senangnya Steven menjalani hari pertamanya sebagai dokter umum.

Sekretarisnya, Mona, memberitahu bahwa ada seorang laki-laki ingin menemuinya. “Asyik, pasien pertamaku!” teriak batin

Steven. Ia pun meminta sekretarisnya mempersilakan laki-laki itu masuk. Steven pun pura-pura sibuk. Ia mengangkat telpon dan pura-pura sedang online.

“Ya, benar sekali. Ongkosnya 200 ribu. Ya, saya tunggu Anda pukul 4 sore nanti. Oke. Jangan telat, saya sibuk sekali,” kata Steven pura-pura bikin janji dengan pasien di ujung telepon.

Ia kemudian meletakkan gagang telepon dan menatap laki-laki yang duduk di hadapannya.

“Maaf, saya membuat Bapak nunggu lama. Apa keluhan Bapak?” tanya Steven berwibawa.

“Ah, nggak ada yang sakit, kok, Dok,” kata laki-laki itu.

“Saya petugas Telkom yang mau pasang telepon.”

Published in: on Agustus 3, 2008 at 4:32 am  Tinggalkan sebuah Komentar  
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.